Petani Kampung Malang Siapkan Pola Tanam Modern, Bidik Produktivitas Padi 10 Ton per Hektare
- Leoni Ditya
- 12 Sep, 2026
- 4 menit baca
TANGERANG — Kelompok Tani Kampung Malang, Kabupaten Tangerang, tengah mempersiapkan penerapan pola tanam modern untuk meningkatkan produktivitas padi sekaligus menekan biaya operasional petani.
Rencana tersebut disampaikan Ketua Kelompok Tani Kampung Malang, OBO, seusai mengikuti rapat penyusunan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) sebagai persiapan pengajuan program subsidi pemerintah tahun 2027.
Dalam rapat itu, para petani mendata kebutuhan subsidi berdasarkan luas lahan dan rencana tanam yang akan dikelola. Menurut OBO, kebutuhan tersebut harus disampaikan langsung oleh masing-masing petani agar data yang diajukan sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Petani yang menyampaikan langsung berapa luas lahan yang akan ditanami dan berapa kebutuhan yang perlu disubsidi pemerintah. Kami sebagai pengurus kelompok tidak bisa memutuskannya sendiri,” ujar OBO.
Selain membahas kebutuhan subsidi, pertemuan tersebut juga menjadi bagian dari persiapan penerapan pola tanam modern yang sebelumnya dipelajari dalam kegiatan Pekan Nasional Petani Nelayan (Penas) di Gorontalo.
OBO menilai sistem tersebut dapat meningkatkan efisiensi penggunaan biaya dan tenaga kerja. Sejumlah tahapan manual, seperti pencabutan bibit dan penanaman secara konvensional, dapat dikurangi.
“Dengan sistem ini terdapat efisiensi operasional. Petani tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk proses mencabut bibit dan menanam. Setelah penanaman dilakukan, petani dapat berfokus pada pemeliharaan hingga panen,” katanya.
Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama kegiatan di Gorontalo, pola tanam tersebut dinilai berpotensi menghasilkan produktivitas padi hingga 10 ton per hektare. Capaian itu jauh lebih tinggi dibandingkan hasil pertanian konvensional di wilayah setempat yang selama ini berkisar antara empat hingga lima ton per hektare.
Meski demikian, angka 10 ton per hektare masih menjadi target yang harus dibuktikan melalui penerapan dan evaluasi langsung di lahan pertanian Kampung Malang.
Pola tanam modern tersebut juga memiliki perbedaan pada pengaturan jarak tanam dan kebutuhan pupuk. Karena jarak tanam dibuat lebih rapat, jumlah dan metode pemberian pupuk perlu disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.
“Pemupukannya juga mengalami penambahan. Karena sistem tanamnya lebih rapat, kebutuhan pupuk harus disesuaikan,” jelas OBO.
Keunggulan lain yang diamati adalah kondisi tanaman yang dinilai lebih kokoh sehingga tidak mudah roboh ketika diterpa angin.
Namun, OBO menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh kesiapan petani. Ketersediaan air dan kondisi jaringan irigasi juga menjadi faktor penting dalam mendukung peningkatan produktivitas.
“Program ini harus didukung oleh semua unsur. Petaninya siap, tetapi ketersediaan air juga harus mendukung. Kalau petani sudah siap sementara air tidak tersedia dengan baik, tentu akan menjadi kendala,” ujarnya.
Pada tahap awal, Kelompok Tani Kampung Malang akan memprioritaskan pengembangan komoditas padi. Lahan yang tersedia saat ini sekitar tiga hektare dan ditargetkan dapat dikembangkan hingga mencapai lima hektare.
Peningkatan produktivitas tersebut juga mulai diarahkan agar berjalan beriringan dengan penguatan akses pasar. Kelompok tani didorong tidak hanya merencanakan kebutuhan tanam, tetapi juga mulai membangun data komoditas, luas lahan, perkiraan produksi, serta waktu panen.
Salah satu platform yang diperkenalkan untuk mendukung langkah tersebut adalah BursaPanen.com, platform digital yang dikembangkan untuk membantu membangun visibilitas pasokan komoditas dari tingkat petani dan organisasi produsen hingga dapat terhubung dengan calon pembeli atau off-taker.
Melalui pendekatan ini, informasi panen diharapkan sudah tersedia sebelum komoditas memasuki masa panen, sehingga pencarian pasar tidak baru dilakukan ketika hasil produksi sudah berada di tangan petani.
Endang Saputra, penggagas BursaPanen, mengatakan peningkatan produktivitas perlu diikuti dengan persiapan pasar sejak awal.
“Kalau produktivitas petani nantinya meningkat dari empat atau lima ton menjadi lebih tinggi, kita juga harus mulai memikirkan siapa yang akan menyerap produksinya. Jangan sampai petani berhasil meningkatkan hasil panen, tetapi justru menghadapi persoalan harga dan pasar ketika panen raya,” ujar Endang.
Menurutnya, data dalam RDKK dapat menjadi titik awal untuk membangun perencanaan yang lebih luas. Selain kebutuhan sarana produksi, secara bertahap dapat dilengkapi dengan data lahan, komoditas, kalender tanam, estimasi produksi dan waktu panen.
“Kita ingin mendorong perubahan sederhana: dari merencanakan tanam menjadi merencanakan sampai ke panen dan pasar. BursaPanen ingin membantu menjembatani bagian itu,” tambah Endang.
Setelah program padi berjalan dan menunjukkan perkembangan, kelompok tani berencana memperluas kegiatan usaha ke sektor lain, seperti perikanan, hortikultura, dan peternakan, dengan mengadaptasi pola pengembangan pertanian terpadu yang dipelajari di Gorontalo.
“Untuk sementara kami fokus pada padi terlebih dahulu. Setelah program ini berkembang, baru kami melanjutkan ke komoditas lainnya,” pungkas OBO.
Dengan penguatan produktivitas di tingkat petani dan dukungan digitalisasi informasi produksi serta akses pasar, Poktan Kampung Malang diharapkan dapat menjadi salah satu contoh pengembangan pertanian yang bergerak dari perencanaan tanam, peningkatan produksi, pencatatan data panen hingga perluasan akses pasar.
Â
Tinggalkan Balasan
Your email address will not be published. Required fields are marked *







